ADB perbesar pembiayaan iklim bagi negara berkembang menjadi US$ 100 miliar

Kamis, 14 Oktober 2021 | 05:00 WIB   Reporter: Bidara Pink
ADB perbesar pembiayaan iklim bagi negara berkembang menjadi US$ 100 miliar

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) menyediakan pembiayaan iklim senilai US$ 100 miliar bagi negara berkembang hingga tahun 2030. 

Jumlah ini meningkat 25% atau US$ 20 miliar dari alokasi semula pada tahun 2018, yang sebesar US$ 80 miliar. 

Presiden ADB Masatsugu Asakawa mengatakan, hal ini seiring dengan makin memburuknya krisis iklim, sehingga makin banyak permintaan agar pembiayaan iklim bisa ditingkatkan. 

“Untuk menjawab permintaan ini, kami menjawabnya dengan meningkatkan ambisi kami menjadi US$100 miliar dalam pembiayaan iklim kumulatif yang berasal dari sumber daya kami sendiri sampai dengan 2030,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Kontan.co.id, Rabu (13/10). 

Baca Juga: ADB pangkas proyeksi pertumbuhan 2021, ini tantangan yang dihadapi Indonesia

Ia kemudian menambahkan, adanya pembiayaan ini diharapkan mampu mendukung agenda iklim di lima bidang utama. 

Rinciannya, pertama, US$ 66 miliar untuk langkah mitigasi iklim. Termasuk penyimpanan energi, efisiensi energi, dan transportasi rendah karbon.

Kedua, US$ 34 miliar untuk pembiayaan peningkatan skala bagi proyek-proyek adaptasi yang transformatif. Berbagai proyek di sektor yang sensitif terhadap iklim, seperti perkotaan, pertanian, dan air, akan dirancang dengan tujuan utama adaptasi iklim yang efektif meningkatkan ketahanan.

Ketiga, peningkatan pembiayaan iklim dalam operasi sektor swasta ADB. Hal ini termasuk dengan menambah jumlah proyek yang lebih layak secara komersial, baik bagi ADB maupun investor swasta.

Penambahan ini akan ditopang oleh peningkatan dalam efisiensi operasional, pemulihan pasca-pandemi dalam hal permintaan pasar akan pembiayaan, teknologi dan inovasi baru dalam pembiayaan iklim, serta bidang-bidang usaha baru bagi operasi iklim di sektor swasta.

ADB bertekad untuk mendukung berbagai prakarsa ini dengan US$12 miliar dari sumber dayanya sendiri untuk pembiayaan iklim sektor swasta secara kumulatif, dan menargetkan adanya tambahan US$18 miliar hingga US$30 miliar dari sumber-sumber dana lainnya.

Keempat, dukungan bagi pemulihan yang hijau, tangguh, dan inklusif dari Covid-19, termasuk melalui platform pembiayaan yang inovatif, seperti ASEAN Catalytic Green Finance Facility and Green Recovery Platform.

Kelima, dukungan untuk mengedepankan reformasi di negara-negara berkembang anggotanya lewat pinjaman berbasis kebijakan, guna mendukung kebijakan dan lembaga yang dapat meningkatkan ketangguhan iklim dan mitigasi iklim.

 

Selanjutnya: ADB pangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun depan jadi 4,8%

 

Editor: Khomarul Hidayat
Terbaru