Ada potensi terjadinya disfungsi kognitif setelah sembuh dari Covid-19

Minggu, 15 Agustus 2021 | 08:45 WIB Sumber: Kompas.com
Ada potensi terjadinya disfungsi kognitif setelah sembuh dari Covid-19


KONTAN.CO.ID -  Sudah hampir dua tahun Covid-19 menyebar ke seluruh dunia, namun penyakit ini belum benar-benar dipahami. Termasuk mengenai efek jangka panjangnya terhadap tubuh dan otak., atau yang dikenal dengan sebutan long covid. 

Sebuah penelitian terbaru disampaikan pada Alzheimer’s Association International Conference (AAIC). Penelitian ini menemukan bahwa terdapat kaitan antara Covid-19 dengan kognitif yang menurun. Selain itu, ditemukan pula percepatan penyakit Alzheimer dan gejalanya. 

Pada sebagian besar pasien Covid-19 bergejala, ditemukan gejala neuropsikiatri. Gejala ini berupa kehilangan indra perasa dan indra penciuman dalam jangka panjang disertai penurunan kognitif dan atensi. Kondisi ini dinamakan dengan “brain fog”. 

Hasil ini diketahui dari penilaian biological marker pada pasien Covid-19 bergejala. Ternyata, biological marker yang diperiksa berkaitan dengan kasus trauma otak, neuroinflamasi, dan penyakit Alzheimer. 

Baca Juga: LPEM FEB UI: Pandemi Covid-19 membuat tingkat kemiskinan dan pengangguran meningkat

Selain itu, banyak pula ditemukan bahwa pasien yang telah sembuh dari Covid-19 mengalami peningkatan kecemasan dan depresi. Mereka juga mengeluhkan mengalami gangguan tidur, mudah lelah, dan berbagai gejala neurologis lainnya. 

Peneliti dari Universitas of Texas Health Science Center di San Antonio Long School of Medicine mempelajari kaitan keduanya pada pasien orang tua yang telah sembuh dari Covid-19 selama tiga sampai enam bulan. 

Lebih dari setengah populasi yang diteliti menunjukkan gejala yang persisten berupa pikun. Sebesar seperempat diantaranya memiliki masalah kognitif berupa disfungsi bahasa. 

Semua masalah ini berkaitan dengan menurunnya fungsi penciuman. Namun, tidak berpengaruh berdasarkan derajat keparahan Covid-19 yang diderita. 

Terdapat biological marker tertentu di dalam darah yang menunjukkan seseorang mengalami trauma otak, neuroinflamasi, dan penyakit Alzheimer. Para peneliti menguji beberapa zat ini di dalam darah pasien yang telah sembuh Covid-19. 

Baca Juga: Akui dampak virus corona varian Delta pada bisnisnya, saham Airbnb anjlok

Editor: Noverius Laoli

Terbaru