8 Bank Dikejar Tenggat Waktu Pemenuhan Modal Inti Rp 3 Triliun, Simak Strateginya

Jumat, 20 Mei 2022 | 05:35 WIB   Reporter: Maizal Walfajri
8 Bank Dikejar Tenggat Waktu Pemenuhan Modal Inti Rp 3 Triliun, Simak Strateginya


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski telah diwajibkan memiliki modal inti Rp 2 triliun di akhir 2021, nyatanya sejumlah bank masih memiliki modal cekak. Hingga Maret 2022, terdapat 8 bank bermodal inti di bawah Rp 2 triliun. 

Namun, tiga di antaranya tidak perlu harus memiliki modal inti Rp 3 triliun lantaran termasuk dalam kelompok usaha bank (KUB). Ini sesuai dengan Peraturan OJK Nomor 12 tentang Konsolidasi Bank Umum menyebutkan bagi Bank selain Perusahaan Induk atau selain pelaksana Perusahaan Induk dalam KUB wajib dipenuhi paling sedikit Rp 1 triliun.

Mereka adalah BJB Syariah bermodal inti Rp 1,15 triliun yang merupakan anak perusahaan BPD Bank Jawa Barat dan Banten. Lalu, Bank Mayora bermodal inti Rp 1,23 triliun yang baru saja diakuisisi oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. 

Kemudian, Bank Victoria Syariah yang baru bermodal inti Rp 266,7 miliar  yang menjadi anak perusahaan PT Bank Victoria International Tbk (BVIC). Namun, BVIC juga baru memiliki modal Rp 2,04 triliun per Maret 2022. Artinya, KUB ini harus bekerja lebih keras guna memperkuat modal demi memenuhi ketentuan OJK. 

Baca Juga: Bank Mengejar Tenggat Target Modal Minimal

Ahmad Fajar, Direktur Utama PT Bank Victoria International Tbk menyatakan pihaknya berkomitmen melakukan peningkatan modal dengan langkah-langkah diantaranya secara organik maupun anorganik. Adapun cara organik ialah dengan membukukan laba bersih. 

Sedangkan Langkah anorganik ditempuh melalui divestasi anak usaha perusahaan, melalui penambahan modal (rights issue), dan strategic partner. Terkait  rencana divestasi, saat ini Bank Victoria tengah dalam proses penjajakan dengan beberapa calon investor.

”Namun demikian, informasi sehubungan dengan investor-investor strategis tersebut belum dapat diungkapkan kepada publik," tekan Fajar. 

Sedangkan Bank Aladin Syariah (BANK) yang baru memiliki modal inti Rp 1 triliun akan memperkuat modal inti dengan menggelar rights issue. Bank digital syariah ini berencana akan melas 1,99 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan senilai Rp 2.000 per saham. 

Jumlah tersebut setara 11,12% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan begitu, jumlah dana yang akan diterima oleh perusahaan dari rights issue sebanyak-banyaknya sebesar Rp 3,99 triliun. 

Lalu, PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) juga berencana menggelar rights issue tahun ini demi memenuhi modal inti. Hasil rights issue untuk memenuhi ketentuan modal inti Rp 3 triliun yang ditetapkan regulator harus dicapai akhir tahun 2022. 

Per Maret 2022, modal inti Bank Nobu baru mencapai Rp 1,62 triliun. Sekretaris Perusahaan Bank Nobu Mario Satrio mengatakan, NOBU sudah menyampaikan rencana tahapan pemenuhan modal inti sebesar Rp 2 triliun pada 2021 dan Rp 3 triliun pada 2022 kepada OJK pada 1 April 2021 lalu. 

Rencana aksi pemenuhan modal inti akan dilakukan dalam tiga tahapan rights issue. Tahap pertama sudah dilakukan tahun lalu sebesar Rp 198 miliar dan sudah efektif per 24 Desember.  

Baca Juga: Sempat Diingatkan OJK, Saham Bank Digital Runtuh, Bank Jago Ambruk Paling Dalam

Mario bilang, NOBU akan melanjutkan rights issue tahap kedua pada semester II tahun ini. Menurutnya, rangkaian aktivitas rights issue itu telah dilakukan pada kuartal IV tahun 2021.  

Setelah itu rampung, Bank Nobu akan kembali melakukan rights issue pada semester II sehingga perseroan akan mencapai modal inti Rp 3 triliun di penghujung tahun.  

Mario menambahkan, rencana aksi korporasi yang akan dilakukan dalam rangka penambahan modal itu tidak akan mengubah ultimate beneficial owner atau pengendali. Namun, ia tidak menjelaskan apakah akan ada perubahan struktur pemegang saham setelah rights issue rampung.

Penambahan modal itu diharapkan akan memberikan dampak positif bagi kinerja operasional Bank Nobu dan kegunaannya dalam jangka panjang.  

"Rencana ini mendukung program tranformasi digital yang tengah dikemabngkan dalam rangka menyelaraskan dengan perkembangan industri perbankan digital yang begitu pesat," tambahnya. 

Kemudian ada Bank Maspion Indonesia (BMAS) baru bermodal inti Rp 1,29 triliun dan Bank Prima Master sebesar Rp 282,82 miliar per Maret 202. Kemudian Bank Fama bermodal inti Rp 1,92 triliun per Desember 2021. Sayangnya manajemen ketiga entitas ini tidak merespon pertanyaan yang Kontan.co.id ajukan terkait rencana penguatan modal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru